Filosofi Jawa Ajaran Islam Sunan Kalijaga

1. Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik).

2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dgn sikap bijak, lembut hati dan sabar).

4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan).

Moh Limo Ajaran Sunan Ampel

Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan putra tertua Maulana Malik Ibrahim, salah satu wali songo. Pemberian nama Ampel karena Rahmat bermukim di wilayah Ampel atau Ampel Denta, saat ini bernama Wonokromo, Surabaya Jawa Timur. Semasa menjadi penyiar Islam, Sunan Ampel banyak memberikan contoh kesederhanaan hidup dan menekankan pentingnya menanamkan akidah dan ibadah sejak dini. Salah satu ajaran yang terkenal adalah 'mo limo' artinya tidak mau melakukan lima hal yang saling berkaitan. Inilah selengkapnya:

1. Moh main atau tidak mau berjudi

Berjudi atau bertaruh memilih satu diantara beberapa pilihan, merupakan perkara yang selalu ditekankan Sunan Ampel. Seberapapun nilai dan bentuknya, Sunan Ampel berusaha memperingatkan kepada muridnya akan balasannya nanti di akhirat.

Fajar Berdarah: Syahidnya Khalifah Ali bin Abi Thalib

Sebelum wafatnya, Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib. Kata Nabi, “ Kamu ( Ali ) tidak akan mati melainkan dalam keadaan jenggotmu bersimbah darah.” Ali yang sangat mempercayai nabi itu hanya tersenyum. Senyumannya itu bermakna bangga. Karena sabda nabi itu bermakna bahwa Ali akan menjemput maut dalam keadaan Syahid- memperjuangkan Agama Allah.

Bermula dari syahidnya Sayyidina Utsman bin Affan yang ditikam ketika sedang bertilawah, prahara yang mengguncang peradaban Islam itupun semakin menjadi-jadi. Maka, setelah beliau dimakamkan, para sahabat berselisih paham. Ada yang mengusulkan untuk memberikan Qishash kepada pemberontak, ada pula yang mendesak agar segera dilantik Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah penerus Utsman – khalifah ke-empat. Atas persetujuan para Ahli Badar yang masih hidup, maka Ali-pun dilantik menjadi khalifah. Ketika itu bertempat di masjid.

Fakta Sejarah Perang Jamal antara Aisyah dengan Ali

Banyak orang menyangka, bahkan ada yang meyakini bahwa hubungan antara ummul mukminin Aisyah RA dengan Ali bin Abi Thalib RA sangatlah buruk. Mereka ber-ilusi bahwa hubungan buruk itu terjadi dimulai dari peristiwa Hadîtsul Ifki pada tahun 6 H dan puncaknya terjadi pada Waq`atul Jamâl (perang unta) pada tahun 35 H.

Bagaimana data-data sejarah yang valid bercerita tentang masalah ini? Untuk mengetahui klarifikasi terkait masalah ini, ada baiknya seorang muslim/ah membaca kitab: عائشة أم المؤمنين sebuah ensiklopedi besar yang khusus berbicara tentang ummul mukminin Aisyah RA. Ensiklopedi ini ditulis oleh sekumpulan para ulama di bawah supervisi DR Alawi bin Abdul Qâdir As-Saqqâf dan telah mendapatkan banyak sekali apresiasi dari para ulama dan aktifis dakwah lainnya.